KENDARI, SAPASULTRA.COM - Pernyataan tendensius dan terkesan menyudutkan salah satu partai di bumi anoa yang dilontarkan pengamat politik Sultra, M Najib Husein, memantik reaksi tajam dari kader Gerindra, Ardan Setyadi.
Ditemui di salah satu warkop (14/7/23), dirinya memberikan pendapat bahwa profesi sebagai pengamat politik tentu memerlukan keahlian khusus. Selain karena jalan politik penuh lika-liku dan kemungkinan, tren dan perkembangan segala sesuatunya di bidang ini sangat cepat berubah. Sehingga seorang pengamat politik tentunya dituntut untuk terus mengikuti perkembangan dinamika politik itu sendiri.
Selain itu seorang pengamat juga mestinya memiliki bekal wawasan, interaksi dan yang tidak kalah pentingnya adalah pengamatnya harus berdasarkan kajian ilmiah yang bisa menunjang pengamatannya, sehingga tidak serta merta kemudian pengamatnya menjadi subjektif dan tendensius.
Ardan sapaan akrabnya yang juga Alumni sekolah politik pro demokrasi, kembali mengungkapkan bahwa kader Gerindra di bumi anoa telah mampu melahirkan sejumlah tokoh pemimpin di jazirah Sulawesi Tenggara, itu terbukti dengan terpenuhinya kursi dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten maupun provinsi di setiap kabupaten di bumi anoa ini.
Tidak sampai disitu dibawah kepemimpinan Triple A, Gerindra Sultra mampu bertengger di posisi teratas berdasarkan hasil survei partai politik Pemilu 2024 yang dilansir Saiful Mujani Research and Consulting atau SRMC ujar ardan. Hasil ini tentunya buah dari sosok pemimpin Trple A yang mampu tampil konsisten dalam membawa pesan pesan kebangsaan dan kerakyatan Prabowo Subianto di sulawesi tenggara.
Gerindra sultra juga aktif mengirim kader kader mudanya untuk menempuh pendidikan di sekolah kader gerindra padepokan garudayaksa milik Prabowo Subianto di hambalang, kader kader ini disiapkan untuk melahirkan calon calon pemimpin yang mempunyai jiwa patriot dan nasionalis.
"Oleh karena itu jika kemudian ada anggapan bahwa gerindra sultra krisis kader pemimpin saya fikir itu sesat, Karna penilaiannya masih terlalu premature untuk menyimpulkan persoalan," katanya.
"Jika kemudian ada kader gerindra atau siapapun yang tersandung persoalan hukum, maka sudah selayaknya sebagai masyarakat yang patuh dan taat terhadap aturan hukum yang berlaku di republik untuk memenuhi proses hukum yang sedang berlangsung sampai semuanya diputuskan dan dapat dibuktikan dimeja persidangan. Jangan justru kemudian proses hukum masih sementara berproses lalu ada sejumlah pihak kemudian tergesa gesa untuk menyimpulkan," ungkapnya lagi.
Terakhir pentolan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya ini mengingatkan, Seorang pengamat bukan dukun atau peramal. Asal ceplos, ditulis lalu lewat begitu saja, tidak berarti apa-apa, tak ada apa-apa. Jangan sampai hasil pengamatannya sama sekali tidak ada guna.
Para pengamat politik akan mendapat banyak order dari media pada waktu tertentu. Seperti sekarang ini, saat tahun pemilu. Banyak sekali pengamat yang diundang di berbagai media. Dari situ dapat diukur mana yang berbobot mana yang tidak. Ukuran bobot pengamat dilihat dari penguasaan materi dan ilmiah.
Tentu sangat beda pengamat politik dengan konsultan politik. Konsultan itu dibayar oleh client-nya. Dia wajib berpihak dan mensukseskan client-nya, karenanya konsultan politik adalah tim sukses.
Perbedaan ini belum begitu menonjol karena banyak sekali pengamat sesungguhnya adalah konsultan politik atau sebaliknya, termasuk banyak dosen juga, padahal PNS tetapi jadi tim sukses diam-diam banyak kandidat.
Tim Redaksi
Tags :







